Selasa, 08 Oktober 2019

Sosiologi kehutanan


Paper Sosiologi Kehutanan                                                          Medan, Oktober  2019
ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI  MASYARAKAT SUKU SERAWAI (BENGKULU)

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Oleh:
Putri Aqila
171201056
KSH 5
                                                                                                

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun judul dari paper  ini adalah “Aspek-Aspek Sosiologi  Masyarakat Suku Serawai (Bengkulu)
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen mata kuliah  
sosiologi kehutanan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si  yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
            Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                                           






Medan, Oktober 2019


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar  belakang
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah suatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosialnya. Jadi, masyarakat tradisional di dalam melangsungkan kehidupannya berdasarkan pada cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama yang masih diwarisi dari nenek moyangnya. Kehidupan mereka belum terlalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya. Kebudayaan masyarakat tradisional merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan alam dan sosial sekitarnya tanpa menerima pengaruh luar. Jadi, kebudayaan masyarakat tradisional tidak mengalami perubahan mendasar. Karena peranan adat-istiadat sangat kuat menguasai kehidupan mereka.
Suku Serawai adalah suku bangsa dengan populasi terbesar kedua yang hidup di daerah Bengkulu. Sebagian besar masyarakat suku Serawai berdiam di kabupaten Bengkulu Selatan, yakni di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna, dan Seginim. Suku Serawai mempunyai mobilitas yang cukup tinggi, saat ini banyak dari mereka yang merantau ke daerah-daerah lain untuk mencari penghidupan baru, seperti ke kabupaten Kepahiangkabupaten Rejang Lebongkabupaten Bengkulu Utara, dan sebagainya. Secara tradisional, suku Serawai hidup dari kegiatan di sektor pertanian, khususnya perkebunan. Banyak di antara mereka mengusahakan tanaman perkebunan atau jenis tanaman keras, misalnya cengkehkopikelapa, dan karet. Meskipun demikian, mereka juga mengusahakan tanaman pangan, palawijahortikultura, dan peternakan untuk kebutuhan hidup.
Asal-usul suku Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya. Asal-usul suku Serawai hanya diperoleh dari uraian atau cerita dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga sulit untuk membedakan dengan yang bernilai sejarah.
Perkembangan teknologi dalam era modernisasi sekarang ini secara tidak langsung membawa nilai dan norma baru dalam kehidupan masyarakat, tidak terkecuali pada masyarakat Serawai yang menetap di Kota Bengkulu. Meskipun nilai dan norma telah merasuk dan membawa perubahan dalam masyarakat luas, namun nilai budaya Serawai masih tetap dipegang oleh masyarakat dalam kehidupan seharihari. Selain faktor perkembangan teknologi, percampuran budaya yang terjadi antara masyarakat Serawai dengan penduduk asli Kota Bengkulu dan pendatang dari luar daerah juga ikut memberikan dalam kehidupan. Pengaruh tersebut bisa dilihat dari berbagai segi kehidupan, termasuk dalam menapaki kehidupan berkeluarga. Upacara adat pernikahan suku Serawai di Bengkulu terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilalui. Mulai dari tahap awal perkenalan antara laki-laki dan wanita, kemudian berlanjut pada keluarga kedua belah pihak, pertunangan, sampai prosesi pernikahan itu sendiri. Sebelum menjalani proses pernikahan, ada satu prosesi yang sangat penting dan sarat akan makna yaitu proses Berasan.
1.2.  Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah dari  paper ini adalah sebagai berikut;
1.      Bagaimana  interaksi sosial suku serawai ?
2.      Bagaimana kelompok sosial suku serawai ?
3.      Bagaimana  norma-norma yang ada di  suku serawai?
4.      Bagaimana pranata atau kelembagaan sosial suku serawai?
5.      Bagaimana struktur sosial masyarakat serawai?
6.      Bagaimana  perubahan sosial masyarakat suku serawai?

1.3. Tujuan
Adapun dari tujuan dari paper ini adalah:
1.      Untuk mengetahui interaksi sosial suku serawai
2.      Untuk mengetahui kelompok sosial suku serawai
3.      Untuk mengetahui norma-norma yang ada di  suku serawai
4.      Untuk mengetahui pranata atau kelembagaan sosial suku serawai
5.      Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat serawai
6.      Untuk mengetahui perubahan sosial masyarakat suku serawai
BAB II
ISI
2.1 Interaksi Sosial
            Mengingat masyarakat Bengkulu itu sendiri terdiri dari beragam suku, yang menjadi permasalahan ketika melakukan Berasan nanti adalah mereka yang berbeda suku. Tidak bisa dipungkiri, akibat terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya dalam era modernisasi, terjadi pergeseran tradisi dalam masyarakat suku Serawai di Kota Bengkulu. Adanya percampuran budaya
generasi sebelumnya, membuat beberapa tradisi dalam upacara adat pernikahan dan Berasan di dalamnya ikut mengalami sedikit perubahan. Perlintasan komunikasi dalam masyarakat sebuah budaya menggunakan kodekode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam semua konteks interaksi. Hal ini dimaksudkan jika pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola tindakan, dan bagaimana makna serta pola-pola itu diartikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.
Masalah utama dalam pola komunikasi dan budaya adalah kesalahan dalam persepsi sosial yang disebabkan oleh perbedaan budaya yang memengaruhi proses persepsi, sehingga pola komunikasi yang terbentuk pun berubah. Pola komunikasi yang terjadi berawal dari penyampaian pesan, media yang digunakan menyampaikan pesan dan siapa yang menerima pesan.

2.2 Kelompok Sosial
Perlintasan komunikasi dalam masyarakat sebuah budaya menggunakan kode-kode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam semua konteks interaksi (Mulyana dan Rakhmat, 2007: 12). Hal ini dimaksudkan jika pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola tindakan, dan bagaimana makna serta pola-pola itu diartikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia. Di sini penulis melihat adanya keterkaitan antara pola tindakan dan bagaimana pola itu diartikulasi dalam kelompok budaya dengan pola komunikasi adat Berasan di Kota Bengkulu.
Semua anggota keluarga pada suku serawai tidak dibenarkan untuk saling kawin mengawini. Di dalam kehidupan sehari-hari terlihatlah cara bergaul mereka yang sangat akrab, karena di antara mereka masih ada hubungan dara, pada masyarakat suku Serawai kerabat yang disebut Jughai dan jengku dapat dimasukkan dalam pengertian keluarga luas. Jughai adalah semua anak cucu dan cicit dari poyang atau moyang. Lingkungan Jughai lebih besar dari lingkungan keluarga luas. Semua keturunan puyang sampai kepada cicit-cicitnya adalah anggota Jughai. Dalam lingkungan Jughai dapat terjadi perkawinan, dengan catatan harus membayar denda adat berupa memotong seekor kambing pada waktu presmian perkawinan.

 2.3. Norma
Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat suku Serawai tidak terlepas dari sopan santun dan tata krama yang mengatur mereka untuk dapat bergaul hingga terciptanya keharmonisan dalam bergaul. Orang yang lebih muda umurnya harus menghormati yang lebih tua dan sebaliknya orang tua umurnya menyayangi yang lebih muda. Akhirnya terjadilah suatu kekerabataan di antara mereka di dalam kelompok tertentu.
Anak harus senantiasa menghormati orang tuanya dan mematuhi semua perintahnya. Di dalam pergaulan sehari-hari, anak tidak dibenarkan memanggil nama orang tuanya, dia akan memanggil ayahnya dengan sebutan Bak atau Bapak dan dia akan memanggil ibunya dengan sebutan Mak Nduak. Adik harus menghormati kakaknya dan sebaliknya kakaknya akan menyayangi adiknya, antara saudara perempuan dan saudara laki-laki akan lebih saling menghormati, yang istilahnya adalah saling menghormati kelawai muanai. Kelawai adalah saudara perempuan dari anak laki-laki, dan muanai adalah saudara laki-lakai dari anak perempuan. Kalau anak laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan di sebut dingsanak.
Dalam pergaulan sehari-hari, adik akan memanggil kakak laki-laki dengan panggilan Dang dan kakak perempuan dipanggil Wah/Wo. Panggilan untuk kakak-kakak yang lain Cik, Ingah/Ngah. Anak dalam mengahdapi saudarah ayah atau ibu, harus memakai sopan santun yang tidak berbeda terhadap ayah dan ibunya sendiri, walaupun saudara ayah atau saudara ibunya lebih kecil umurnya. Adapun panggilan anak kepada saudara ayah atau ibu adalah sebagai berikut : Endah adalah panggilan kepada adik dari ayah atau ibu yang perempuan, sedangkan untuk yang laki-laki di panggil dengan sebutan Wan, sedangkan Bakdang adalah panggilan anak kepada kakak laki-laki ayah atau ibu yang tertua, sedangkan untuk yang perempuan dipanggil dengan sebutan Makdang.
2.4 Pranata Atau Kelembagaan Sosial
Mengingat kondisi di lapangan masih ada masyarakat asli suku Serawai di Kota Bengkulu maupun masyarakat Kota Bengkulu sendiri dan pendatang yang belum memahami secara keseluruhan bagaimana proses Berasan, sehingga bisa dilihat bagaimana pola komunikasi adat Berasan yang terbentuk. Pola komunikasi yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada urutan pada tata cara proses berlangsungnya adat Berasan, yang mengalami perubahan akibat pengaruh persepsi sosial dalam komunikasi dan budaya suku Serawai di era modernisasi saat ini. Dengan demikian, di masa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan pelaksanaan adat Berasan dalam melangsungkan pernikahan antara suku Serawai dengan masyarakat berbeda budaya.
2.5 Struktur Sosial
Keluarga Batih, yaitu keluarga yang terdiri dari anak-anak yang belum berkeluarga yang dipimpin oleh seorang ayah dan ibu. Dalam hal ini semua anak tunduk dan patuh kepada ayah, ibunya dan dalam pergaulan sehari-hari anak-anak tidak akan memanggil nama yang lebih tua darinya, tapi dia akan memanggil dengan kata ganti nama yang disebut dengan tuturan. Pembentukan keluarga batih ini diawali dengan upacara perkawinan. Tempat tinggal pasangan yang baru nikah ini disesuaikan dengan perjanjian sebelum upacara perkawinan. Menurut asen bekulo atau perasaan adat sejati ketentuan tempat tinggal itu ada tiga macam yaitu :
1.      Asen beleket, artinya sang isteri ikut bertempat tinggal di lingkungan keluarga besar pihak suami (patrilokal). Pergi beleket berarti nyep (hilang) ia tidak berhak lagi memperoleh pembagian harta warisan orang tuanya.
2.      Asen Semendo artinya setelah kawin sang suami pindah berdiam turut ke lingkungan keluarga isterinya (matrilokal). Tetapi kekuasaan rumah tangga tetap pada suami. Berbeda dengan beleket bahwa laki-laki di sini masih berhak mendapat pembagian warisan orang tuanya.
3.      Semendo Rajo-rajo. Ini terjadi biasanya kalau kedudukan orang tua kedua belah pihak sama kuat maka soal tempat tinggal ini bebas menurut pilihan pasangan keluarga baru itu (biloka).
2.6 Perubahan Sosial
Ketidaktahuan dan kurangnya informasi serta minimnya sumber atau dokumentasi adat Berasan yang dialami oleh masyarakat asli suku Serawai dan masyarakat di Kota Bengkulu ini bisa disebabkan oleh perbedaan persepsi dalam memaknainya, sehingga pola komunikasinya pun juga bisa berubah. Dan mendeskripsikan pola komunikasi adat Berasan suku Serawai di Kota Bengkulu di era modern.
Mengingat kondisi di lapangan masih ada masyarakat asli suku Serawai di Kota Bengkulu maupun masyarakat Kota Bengkulu sendiri dan pendatang yang belum memahami secara keseluruhan bagaimana proses Berasan, sehingga bisa dilihat bagaimana pola komunikasi adat Berasan yang terbentuk.  Pandangan masyarakat dari suku Serawai yang bermukim di Kota Bengkulu terhadap adat Berasan mereka dalam era modernisasi ini sudah cukup baik. Artinya mereka menyadari akan arti pentingnya Berasan sebelum melaksanakan pernikahan. Meski sudah memasuki era modernisasi di mana pergeseran dan percampuran budaya bisa terjadi, tidak sedikit diantara mereka yang masih melaksanakannya meski ada tahapan dalam pola komunikasi adat Berasan-nya mengalami perubahan. Setidaknya mereka sudah tahu apa itu adat Berasan dan bagaimana cara melakukannya.



BAB III
KESIMPULAN
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah suatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosialnya.
Mengingat masyarakat Bengkulu itu sendiri terdiri dari beragam suku, yang menjadi permasalahan ketika melakukan Berasan nanti adalah mereka yang berbeda suku. Tidak bisa dipungkiri, akibat terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya dalam era modernisasi, terjadi pergeseran tradisi dalam masyarakat suku Serawai di Kota Bengkulu. Adanya percampuran budaya generasi sebelumnya, membuat beberapa tradisi dalam upacara adat pernikahan dan Berasan di dalamnya ikut mengalami sedikit perubahan


















DAFTAR PUSTAKA
                                                       
Mariana, N,  Iswan D, Yeni M. 2015. Analisis Masyarakat Serawai Dalam Berpantun. 2(1): 448-457.

Mun’im A., Hanani E., Rahmadiah. 2009.  Pola Komunikasi Adat Berasan Suku Serawai Di Era Modern. Pola Komunikasi Adat Berasan Suku Serawai. 6: 38-44.

Wikipedia. 2013. Serawai. Http:// Wikipedia.go.id/Serawai//. Diakses: 24 September 2019. Pukul : 23.46.


Sosiologi kehutanan

Paper Sosiologi Kehutanan                                                              Medan, Oktober   2019 ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI   ...