Selasa, 08 Oktober 2019

Sosiologi kehutanan


Paper Sosiologi Kehutanan                                                          Medan, Oktober  2019
ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI  MASYARAKAT SUKU SERAWAI (BENGKULU)

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Oleh:
Putri Aqila
171201056
KSH 5
                                                                                                

















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun judul dari paper  ini adalah “Aspek-Aspek Sosiologi  Masyarakat Suku Serawai (Bengkulu)
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen mata kuliah  
sosiologi kehutanan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si  yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
            Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                                           






Medan, Oktober 2019


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar  belakang
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah suatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosialnya. Jadi, masyarakat tradisional di dalam melangsungkan kehidupannya berdasarkan pada cara-cara atau kebiasaan-kebiasaan lama yang masih diwarisi dari nenek moyangnya. Kehidupan mereka belum terlalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya. Kebudayaan masyarakat tradisional merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan alam dan sosial sekitarnya tanpa menerima pengaruh luar. Jadi, kebudayaan masyarakat tradisional tidak mengalami perubahan mendasar. Karena peranan adat-istiadat sangat kuat menguasai kehidupan mereka.
Suku Serawai adalah suku bangsa dengan populasi terbesar kedua yang hidup di daerah Bengkulu. Sebagian besar masyarakat suku Serawai berdiam di kabupaten Bengkulu Selatan, yakni di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna, dan Seginim. Suku Serawai mempunyai mobilitas yang cukup tinggi, saat ini banyak dari mereka yang merantau ke daerah-daerah lain untuk mencari penghidupan baru, seperti ke kabupaten Kepahiangkabupaten Rejang Lebongkabupaten Bengkulu Utara, dan sebagainya. Secara tradisional, suku Serawai hidup dari kegiatan di sektor pertanian, khususnya perkebunan. Banyak di antara mereka mengusahakan tanaman perkebunan atau jenis tanaman keras, misalnya cengkehkopikelapa, dan karet. Meskipun demikian, mereka juga mengusahakan tanaman pangan, palawijahortikultura, dan peternakan untuk kebutuhan hidup.
Asal-usul suku Serawai masih belum bisa dirumuskan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk-bentuk publikasi lainnya. Asal-usul suku Serawai hanya diperoleh dari uraian atau cerita dari orang-orang tua. Sudah tentu sejarah tutur seperti ini sangat sukar menghindar dari masuknya unsur-unsur legenda atau dongeng sehingga sulit untuk membedakan dengan yang bernilai sejarah.
Perkembangan teknologi dalam era modernisasi sekarang ini secara tidak langsung membawa nilai dan norma baru dalam kehidupan masyarakat, tidak terkecuali pada masyarakat Serawai yang menetap di Kota Bengkulu. Meskipun nilai dan norma telah merasuk dan membawa perubahan dalam masyarakat luas, namun nilai budaya Serawai masih tetap dipegang oleh masyarakat dalam kehidupan seharihari. Selain faktor perkembangan teknologi, percampuran budaya yang terjadi antara masyarakat Serawai dengan penduduk asli Kota Bengkulu dan pendatang dari luar daerah juga ikut memberikan dalam kehidupan. Pengaruh tersebut bisa dilihat dari berbagai segi kehidupan, termasuk dalam menapaki kehidupan berkeluarga. Upacara adat pernikahan suku Serawai di Bengkulu terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilalui. Mulai dari tahap awal perkenalan antara laki-laki dan wanita, kemudian berlanjut pada keluarga kedua belah pihak, pertunangan, sampai prosesi pernikahan itu sendiri. Sebelum menjalani proses pernikahan, ada satu prosesi yang sangat penting dan sarat akan makna yaitu proses Berasan.
1.2.  Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah dari  paper ini adalah sebagai berikut;
1.      Bagaimana  interaksi sosial suku serawai ?
2.      Bagaimana kelompok sosial suku serawai ?
3.      Bagaimana  norma-norma yang ada di  suku serawai?
4.      Bagaimana pranata atau kelembagaan sosial suku serawai?
5.      Bagaimana struktur sosial masyarakat serawai?
6.      Bagaimana  perubahan sosial masyarakat suku serawai?

1.3. Tujuan
Adapun dari tujuan dari paper ini adalah:
1.      Untuk mengetahui interaksi sosial suku serawai
2.      Untuk mengetahui kelompok sosial suku serawai
3.      Untuk mengetahui norma-norma yang ada di  suku serawai
4.      Untuk mengetahui pranata atau kelembagaan sosial suku serawai
5.      Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat serawai
6.      Untuk mengetahui perubahan sosial masyarakat suku serawai
BAB II
ISI
2.1 Interaksi Sosial
            Mengingat masyarakat Bengkulu itu sendiri terdiri dari beragam suku, yang menjadi permasalahan ketika melakukan Berasan nanti adalah mereka yang berbeda suku. Tidak bisa dipungkiri, akibat terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya dalam era modernisasi, terjadi pergeseran tradisi dalam masyarakat suku Serawai di Kota Bengkulu. Adanya percampuran budaya
generasi sebelumnya, membuat beberapa tradisi dalam upacara adat pernikahan dan Berasan di dalamnya ikut mengalami sedikit perubahan. Perlintasan komunikasi dalam masyarakat sebuah budaya menggunakan kodekode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam semua konteks interaksi. Hal ini dimaksudkan jika pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola tindakan, dan bagaimana makna serta pola-pola itu diartikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.
Masalah utama dalam pola komunikasi dan budaya adalah kesalahan dalam persepsi sosial yang disebabkan oleh perbedaan budaya yang memengaruhi proses persepsi, sehingga pola komunikasi yang terbentuk pun berubah. Pola komunikasi yang terjadi berawal dari penyampaian pesan, media yang digunakan menyampaikan pesan dan siapa yang menerima pesan.

2.2 Kelompok Sosial
Perlintasan komunikasi dalam masyarakat sebuah budaya menggunakan kode-kode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam semua konteks interaksi (Mulyana dan Rakhmat, 2007: 12). Hal ini dimaksudkan jika pusat perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola tindakan, dan bagaimana makna serta pola-pola itu diartikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia. Di sini penulis melihat adanya keterkaitan antara pola tindakan dan bagaimana pola itu diartikulasi dalam kelompok budaya dengan pola komunikasi adat Berasan di Kota Bengkulu.
Semua anggota keluarga pada suku serawai tidak dibenarkan untuk saling kawin mengawini. Di dalam kehidupan sehari-hari terlihatlah cara bergaul mereka yang sangat akrab, karena di antara mereka masih ada hubungan dara, pada masyarakat suku Serawai kerabat yang disebut Jughai dan jengku dapat dimasukkan dalam pengertian keluarga luas. Jughai adalah semua anak cucu dan cicit dari poyang atau moyang. Lingkungan Jughai lebih besar dari lingkungan keluarga luas. Semua keturunan puyang sampai kepada cicit-cicitnya adalah anggota Jughai. Dalam lingkungan Jughai dapat terjadi perkawinan, dengan catatan harus membayar denda adat berupa memotong seekor kambing pada waktu presmian perkawinan.

 2.3. Norma
Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat suku Serawai tidak terlepas dari sopan santun dan tata krama yang mengatur mereka untuk dapat bergaul hingga terciptanya keharmonisan dalam bergaul. Orang yang lebih muda umurnya harus menghormati yang lebih tua dan sebaliknya orang tua umurnya menyayangi yang lebih muda. Akhirnya terjadilah suatu kekerabataan di antara mereka di dalam kelompok tertentu.
Anak harus senantiasa menghormati orang tuanya dan mematuhi semua perintahnya. Di dalam pergaulan sehari-hari, anak tidak dibenarkan memanggil nama orang tuanya, dia akan memanggil ayahnya dengan sebutan Bak atau Bapak dan dia akan memanggil ibunya dengan sebutan Mak Nduak. Adik harus menghormati kakaknya dan sebaliknya kakaknya akan menyayangi adiknya, antara saudara perempuan dan saudara laki-laki akan lebih saling menghormati, yang istilahnya adalah saling menghormati kelawai muanai. Kelawai adalah saudara perempuan dari anak laki-laki, dan muanai adalah saudara laki-lakai dari anak perempuan. Kalau anak laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan di sebut dingsanak.
Dalam pergaulan sehari-hari, adik akan memanggil kakak laki-laki dengan panggilan Dang dan kakak perempuan dipanggil Wah/Wo. Panggilan untuk kakak-kakak yang lain Cik, Ingah/Ngah. Anak dalam mengahdapi saudarah ayah atau ibu, harus memakai sopan santun yang tidak berbeda terhadap ayah dan ibunya sendiri, walaupun saudara ayah atau saudara ibunya lebih kecil umurnya. Adapun panggilan anak kepada saudara ayah atau ibu adalah sebagai berikut : Endah adalah panggilan kepada adik dari ayah atau ibu yang perempuan, sedangkan untuk yang laki-laki di panggil dengan sebutan Wan, sedangkan Bakdang adalah panggilan anak kepada kakak laki-laki ayah atau ibu yang tertua, sedangkan untuk yang perempuan dipanggil dengan sebutan Makdang.
2.4 Pranata Atau Kelembagaan Sosial
Mengingat kondisi di lapangan masih ada masyarakat asli suku Serawai di Kota Bengkulu maupun masyarakat Kota Bengkulu sendiri dan pendatang yang belum memahami secara keseluruhan bagaimana proses Berasan, sehingga bisa dilihat bagaimana pola komunikasi adat Berasan yang terbentuk. Pola komunikasi yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada urutan pada tata cara proses berlangsungnya adat Berasan, yang mengalami perubahan akibat pengaruh persepsi sosial dalam komunikasi dan budaya suku Serawai di era modernisasi saat ini. Dengan demikian, di masa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan pelaksanaan adat Berasan dalam melangsungkan pernikahan antara suku Serawai dengan masyarakat berbeda budaya.
2.5 Struktur Sosial
Keluarga Batih, yaitu keluarga yang terdiri dari anak-anak yang belum berkeluarga yang dipimpin oleh seorang ayah dan ibu. Dalam hal ini semua anak tunduk dan patuh kepada ayah, ibunya dan dalam pergaulan sehari-hari anak-anak tidak akan memanggil nama yang lebih tua darinya, tapi dia akan memanggil dengan kata ganti nama yang disebut dengan tuturan. Pembentukan keluarga batih ini diawali dengan upacara perkawinan. Tempat tinggal pasangan yang baru nikah ini disesuaikan dengan perjanjian sebelum upacara perkawinan. Menurut asen bekulo atau perasaan adat sejati ketentuan tempat tinggal itu ada tiga macam yaitu :
1.      Asen beleket, artinya sang isteri ikut bertempat tinggal di lingkungan keluarga besar pihak suami (patrilokal). Pergi beleket berarti nyep (hilang) ia tidak berhak lagi memperoleh pembagian harta warisan orang tuanya.
2.      Asen Semendo artinya setelah kawin sang suami pindah berdiam turut ke lingkungan keluarga isterinya (matrilokal). Tetapi kekuasaan rumah tangga tetap pada suami. Berbeda dengan beleket bahwa laki-laki di sini masih berhak mendapat pembagian warisan orang tuanya.
3.      Semendo Rajo-rajo. Ini terjadi biasanya kalau kedudukan orang tua kedua belah pihak sama kuat maka soal tempat tinggal ini bebas menurut pilihan pasangan keluarga baru itu (biloka).
2.6 Perubahan Sosial
Ketidaktahuan dan kurangnya informasi serta minimnya sumber atau dokumentasi adat Berasan yang dialami oleh masyarakat asli suku Serawai dan masyarakat di Kota Bengkulu ini bisa disebabkan oleh perbedaan persepsi dalam memaknainya, sehingga pola komunikasinya pun juga bisa berubah. Dan mendeskripsikan pola komunikasi adat Berasan suku Serawai di Kota Bengkulu di era modern.
Mengingat kondisi di lapangan masih ada masyarakat asli suku Serawai di Kota Bengkulu maupun masyarakat Kota Bengkulu sendiri dan pendatang yang belum memahami secara keseluruhan bagaimana proses Berasan, sehingga bisa dilihat bagaimana pola komunikasi adat Berasan yang terbentuk.  Pandangan masyarakat dari suku Serawai yang bermukim di Kota Bengkulu terhadap adat Berasan mereka dalam era modernisasi ini sudah cukup baik. Artinya mereka menyadari akan arti pentingnya Berasan sebelum melaksanakan pernikahan. Meski sudah memasuki era modernisasi di mana pergeseran dan percampuran budaya bisa terjadi, tidak sedikit diantara mereka yang masih melaksanakannya meski ada tahapan dalam pola komunikasi adat Berasan-nya mengalami perubahan. Setidaknya mereka sudah tahu apa itu adat Berasan dan bagaimana cara melakukannya.



BAB III
KESIMPULAN
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah suatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosialnya.
Mengingat masyarakat Bengkulu itu sendiri terdiri dari beragam suku, yang menjadi permasalahan ketika melakukan Berasan nanti adalah mereka yang berbeda suku. Tidak bisa dipungkiri, akibat terjadinya proses akulturasi dan asimilasi budaya dalam era modernisasi, terjadi pergeseran tradisi dalam masyarakat suku Serawai di Kota Bengkulu. Adanya percampuran budaya generasi sebelumnya, membuat beberapa tradisi dalam upacara adat pernikahan dan Berasan di dalamnya ikut mengalami sedikit perubahan


















DAFTAR PUSTAKA
                                                       
Mariana, N,  Iswan D, Yeni M. 2015. Analisis Masyarakat Serawai Dalam Berpantun. 2(1): 448-457.

Mun’im A., Hanani E., Rahmadiah. 2009.  Pola Komunikasi Adat Berasan Suku Serawai Di Era Modern. Pola Komunikasi Adat Berasan Suku Serawai. 6: 38-44.

Wikipedia. 2013. Serawai. Http:// Wikipedia.go.id/Serawai//. Diakses: 24 September 2019. Pukul : 23.46.


Kamis, 11 April 2019

ESDH


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                  Medan, April 2019
KLASIFIKASI DAN JENIS MANFAAT SUMBERDAYA HUTAN

Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
Oleh:
Putri Aqila
171201056
HUT 4 D
                                                                                                

 



























PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun judul dari paper  ini adalah “klasifikasi dan jenis manfaat sumberdaya hutan”
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen mata kuliah  
Ekonomi Sumberdaya Hutan yaitu Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si  yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
            Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
                                                                                           






Medan, April 2019


Penulis


DAFTAR ISI
             halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................     i
DAFTAR ISI..................................................................................................    ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.................................................................................    1
1.2. Tujuan..............................................................................................    2
3.1. Rumusan Masalah............................................................................    3
BAB II. ISI
2.1. Bagaimana Potensi Asam jawa sebagai Komoditi Usaha yang menjanjikan                                                                            
2.2.Untuk Mengetahui Potensi asam jawa yang dapat dikembangkan sebagai.sumber usaha yang menjanjikan                                                   
2.3.Untuk mengetahui manfaat asam jawa                                          
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan......................................................................................... 7
3.2. Saran................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................   8
























BAB I
PENDAHULUAN
Latar  belakang
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi (Wirakusumah, 2003), yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ekonomi SDH sangat mendasar posisinya dalam pengelolaan hutan; tanpa pertimbangan atau analisis ekonomi efisiensi pengelolaan hutan sukar tercapai. Analisis ekonomi SDH dapat diketahui apa yang diusahakan, berapa jumlahnya, kapan ditanam dan kapan dipanen serta berapa harga jual sehingga pengelolaan hutan dapat menguntungkan dan berkesinambungan. Pertimbangan- pertimbangan ekonomi tidak hanya pada kegiatan pemanfaatan hasil hutan, tetapi juga berlaku untuk kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan dalam upaya meningkatkan jasa lingkungan dari hutan.
Sumberdaya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi daalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua, penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup dan lingkungan sosial masyarakat. Ketiga bentuk peranan tersebut berkaitan dengan peranan sumberdaya hutan sebagai penggerak ekonomi yang sangat potensial, sangat kompleks dan saling terkait.
Asam jawa bukan lagi Komoditi yang asing ditengah-tengah masyarakat dunia terkhusus masyarakat Indonesia. Asam jawa telah dikenal diseluruh lapisan masyarakat baik, para pegusaha kuliner, pengusaha makanan ringan masyarakat atas, masyarakat menengah kebawah bahkan apalagi ibu-ibu rumah tangga yang sudah familiar dengan asam jawa yang umumya banyak digunakan sebagai bumbu masakan.
Pohon asam berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat.  Hampir semua bagian tanaman asam dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Daging buah asam jawa sangat populer, biasa dipergunakan dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia Buah yang muda sangat masam rasanya, dan biasa digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak.

1.2.  rumusan masalah
 Adapun rumusan masalah dari  paper ini adalah sebagai berikut;
1.      Bagaimana  Potensi Asam jawa sebagai Komoditi Usaha yang menjanjikan?
2.      Apa saja Potensi asam jawa yang dapat dikembangkan sebagai sumber usaha yang menjanjikan?
3.      Apa saja manfaat asam jawa?

1.3.tujuan
Adapun dari tujuan dari paper ini adalah:
1.      Untuk mengetahui Potensi Asam jawa sebagai Komoditi Usaha yang menjanjikan
2.      Untuk mengetahui Potensi asam jawa yang dapat dikembangkan sebagai sumber usaha yang menjanjikan
3.      Untuk mengetahui manfaat asam jawa


BAB II
ISI
2.1 Potensi Asam jawa sebagai Komoditi Usaha yang menjanjikan
            Asam jawa merupakan komoditas tanaman yang memiliki potensi yang sangat melimpah, Menurut dinas Kehutanan, asam jawa dapat menghasilkan 3000 Ton biji asam jawa di daerah Nusa Tenggar Timur yang notabene merupakan provinsi yang terkenal sebagai penghasil komoditas asam jawa terbesar di Indonesia. Selain itu Asam jawa juga memiliki manfaat-manfaat positif bagi masyarakat baik dibidang kuliner maupun kesehatan dan lainnya. Berikut ini merupakan potensi asam jawa yang dapat dikembangkan sebagai jalan usaha yang menjanjikan. Saat ini tepung biji asam sangat berperan dalam industri tekstil Indonesia, yaitu sebagai pengental cetak tekstil. Untuk itu Indonesia masih mengimpor tepung biji asam dari India lantaran ketiadaan tepung ini di tanah air. Dengan tepung biji asam sebagai pengental, mendapatkan hasil kekakuan kain dan kekuatan warna yang lebih baik daripada pengental komersial yang beredar dipasaran, adapun kelebihan lainnya dari tepung ini adalah tidak bereaksi dengan serat kain maupun zat warna. Dari potensi asam jawa yang begitu melimpah, seharusnya Indonesia tidak perlu lagi mengimpor tepung asam jawa yang banyak berasal dari India. Usaha Tepung Asam jawa ini terlihat begitu menjanjikan jika berhasil dikembangkan di Indonesia yang tentunya harus memiliki kualitas bersaing dengan produk India.
Di samping daging buah, banyak bagian pohon asam yang dapat dijadikan bahan obat tradisional. Daun mudanya digunakan dengan kunyit dan bahan ramuan lain untuk membuat jamu jawa tradisional yaitu jamu sinom untuk minuman kesegaran, jamu gepyok diminum untuk melancarkan dan memperbanyak air susu ibu dan juga bisa digunakan sebagai tapal (dioleskan pada atau ditempelkan di permukaan kulit) untuk mengurangi radang dan rasa sakit di persendian, di atas luka atau pada sakit rematik. Daun muda yang direbus untuk mengobati batuk dan demam. Kulit kayunya yang ditumbuk digunakan untuk menyembuhkan luka, borok, bisul dan ruam. Kulit kayu asam juga digunakan sebagai obat kuat. Tepung bijinya untuk mengobati disentri dan diare. Daun asam jawa bersifat penurun panas, analgesik, dan antiseptik. Kulit kayunya ini bersifat astringen dan tonik. Kemudian, buahnya bersifat pencahar, antipiretik, antiseptik, abortivum, dan meningkatkan nafsu makan. Dengan begitu banyak khasiat dan manfaat nya bagi kesehatan bukan tidak mungkin jika dikemas dengan tampilan obat-obatan herbal menarik seperti jamu dan lainnya, potensi asam jawa sebagai sumber obat herbal dapat menyaingi kedudukan kulit manggis yang saat ini tengah merajai pasaran obat herbal Indonesia.
Industri kayu pertukangan yang kian hari semakin membutuhkan bahan baku yang begitu banyak, sangat menanti kehadiran kayu yang kuat dan kokoh selain komoditas kayu yang pada umumnya digunakan sebagai bahan kayu pertukangan. Kayu asam jawa dapat menjadi bahan baku pengganti selanjutnya yang pastinya memiliki kualitas dan kuantitas yang menjanjikan. Kayu teras asam jawa berwarna coklat kemerahan, berat, keras, padat, awet dan bertekstur halus, sehingga kerap digunakan untuk membuat mebel, kerajinan, ukir-ukiran dan patung.
2.2 Produk berbahan dasar Asam jawa yang bernilai Ekonomi Tinggi
            Pemanfaatan asam jawa sebagai produk olahan makanan maupun bumbu dapur sudah ada dan telah berkembang menjadi produk yang menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan yang menjalankan pemasaran produk tersebut. Hal ini juga tidak terlepas dari keberanian mereka untuk memunculkan ide-ide kreatif dan menarik sehingga produk olahan asam jawa mereka diterima baik ditengah-tengah masyarakat dan produksinya terus berjalan hingga saat ini. Berikut ini adalah Produk olahan asam jawa tersebut. Dikalangan masyarakat indonesia barangkali sudah tidak lagi asing dengan produk yang satu ini. Produk jajanan permen olahan daging buah asam jawa yang di produksi oleh PT. Mayora
ini telah dipasarkan sejak awal tahun 2000-an dan menjadi primadona dikalangan anak-anak kecil hingga ibu-ibu karena rasanya yang asam manis di lidah. PT. Mayora sendiri bukanlah perusahaan makanan yang asing di Indonesia. Mayora telah berdiri dan berproduksi sejak tahun 1977 dan memiliki brand makanan dan minuman yang terkenal diantaranya, yakni Torabika, Kopiko, Biskuit roma, Wafer Top, Beng-beng dan banyak lagi lainnya. Seiring perkembangan zaman, kini proses pengolahan bumbu masak tidak lagi secara tradisional. Sebagian masyarakat mulai beralih memanfaatkan bumbu masak yang telah diolah melalui proses teknologi canggih, misalnya bumbu masak asam jawa. Kini, sudah beredar asam jawa yang dibuat secara instan. Pebisninya bisa meraup omzet lumayan. Dahulu, kalangan ibu rumahtangga mengolah racikan bumbu dapur masih melalui proses tradisional. Di antaranya, mereka mengulek jenis bumbu dapur yang dibutuhkan sebagai penyedap rasa masakan. Tapi, cara seperti itu kini perlahan mulai ditinggalkan. Seiring kemajuan zaman, sebagian masyarakat beralih memanfaatkan bumbu dapur yang telah diolah melalui proses teknologi canggih. Sebut saja, misalnya, bumbu dapur jenis asam jawa instan.
 2.3. Manfaat Dari Asam Jawa
Antioksidan secara umum juga berpengaruh pada glukosa darah, mekanisme antioksidan dalam antihiperglikemia yaitu mengurangi stress oksidatif pada terjadinya diabetes, selain itu antioksidan bekerja dengan cara mengurangi glukosa dalam darah dan meningkatkan kadar insulin plasma. Salah satu contoh teknik ekstraksi yaitu maserasi yang merupakan cara penyari yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara meredam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Maserasi  dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari kemudian zat aktif akan larut karena perbedaan konsentrasi. Setelah beberapa hari diambil ekstrak kemudian dipanaskan sambil diaduk sehingga diperoleh ekstrak kental. Etanol digunakan sebagai penyari dalam proses ekstraksi karena etanol mempunyai kelebihan lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol diatas 20%, tidak beracun, netral, absorbsinya baik, etanol dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan, sedangkan kerugian etanol lebih mahal. Etanol dapat melarutkan alkaloida basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, dammar dan klorofil (Puspitasari, 2014).
Asam jawa, asam atau asem adalah sejenis buah yang masam rasanya, biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan, misalnya pada sayur asam atau kadang-kadang kuah pempek. Asam jawa dihasilkan oleh pohon yang bernama ilmiah Tamarindus indica, termasuk ke dalam suku Fabaceae (Leguminosae). Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga Tamarindus. Buah yang telah tua,
BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
1.      Asam Jawa (Tamarindus indica) merupakan komoditas kehutanan yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur dan memiliki potensi kuantitas yang besar dan menjanjikan
2.      Asam jawa, asam atau asem adalah sejenis buah yang masam rasanya biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan,
3.      Hampir semua bagian tanaman asam dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Maka dari itu Asam Jawa sering disebut Tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species).
4.      Pemanfaatan asam jawa sebagai produk olahan makanan maupun bumbu dapur sudah ada dan telah berkembang menjadi produk yang menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan yang menjalankan pemasaran produk tersebut
5.      Produk asam jawa yang sudah terkenal yakni diantaranya adalah jajanan permen Tamarin produksi PT. Mayora, dan Saus Asamko

3.2. Saran
      Sebaiknya didalam mengolah asam jawa sebagai produk dengan komoditi yang menjanjikan para pengusaha harus bekerja secara kreatif dan inovatif serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat supaya produk yang dihasilkan di terima baik dan dapat berkembang dimasyarakat.







DAFTAR PUSTAKA

Djajaperjunda, S dan Sumardjani, L. 2014. Hasil Hutan Non Kayu : Gambaran Masa Lampau untuk Prospek Masa Depan. Kongres Kehutanan: Jakarta.

Fajriyah , L, Hamidah, Bambang I. 2013. Analisi Keanekaragamandan       Pengengelompokan Empat Varietas Kelengkeng (Dimocarpus longan       Lour. )Melalui Metode Fenetik

Peluang usaha :http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-saus-asam-jawa-masih-masam-1. Diakse: 24 Maret 2015. Pukul: 23.46


Wikipedia. 2013. Asam Jawa. Http:// Wikipedia.go.id/Asam Jawa//. Diakses: 24 Maret 2015. Pukul : 23.46.

Mariana, N,  Iswan D, Yeni M. 2015. Analisis Pohon Penghasil Buah- Buahan      Hutan yang Terdapat Di Hutan Alam Kantuk Kecamatan Sepauk        Kabupaten       Sintang. 2(1): 448-457.

Mun’im A., Hanani E., Rahmadiah, 2009. Karakteristik Ekstrak Etanolik Daun Asam Jawa ( Tamarindus Indica L. ). Makalah Ilmu Kefarmasian. 6: 38-44.
Rezkina, A, Inyoman R, Ida A M. 2016.  Identifikasi dan Karakterisasi Sumber Daya        Genetik Buah-Buahan Lokal di Kabupaten Klungkung. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika. 5(2).

Puspasari, F. 2014. Pemanfaatan Biji Asam Jawa (Tamarindus Indica) Sebagai Koagulan Alternatif Dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu. Diakses dari:http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:eFp6peicchYJ:eprints.polsri.ac.id/898/1/Cover%252C%2520%2520abstrak%252C%2520motto%252C%2520dll%2520FITRI.pdf. [09 Maret 2018] [19.00].



Sosiologi kehutanan

Paper Sosiologi Kehutanan                                                              Medan, Oktober   2019 ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI   ...